Assement di Balik Seduhan Kopi: Data Assessment Community Development Tak Selalu Lahir di Ruang Formal
Ketika merencanakan assessment (penilaian kebutuhan) untuk program Community Development (Comdev), sering kali tertuju pada kuesioner tebal, Focus Group Discussion (FGD) di balai desa, atau formulir survei yang terstruktur. Kita dikondisikan untuk percaya bahwa validitas data hanya bisa dicapai melalui metode formal. Padahal, data yang otentik dan akurat tentang kondisi permasalahan atau kebutuhan masyarakat tidak melulu lahir dari balik meja kantor. Terkadang, informasi yang paling krusial justru meluncur bebas di sela-sela obrolan santai di warung kopi (warkop).
Bagi para fasilitator masyarakat dan praktisi Comdev, warkop bukanlah sekadar tempat singgah, melainkan “laboratorium sosial” yang sangat berharga. Mengapa demikian?
Meruntuhkan “Topeng” Wawancara Formal
Dalam situasi wawancara assessment resmi, warga atau calon penerima manfaat cenderung mengalami tekanan psikologis. Mereka sering kali memberikan jawaban normatif—jawaban yang dirasa pantas, sopan, atau yang sekiranya ingin didengar oleh perusahaan pemberi CSR atau lembaga sosial (social desirability bias) atau jawaban yang agar mereka bisa mendapat bantuan. Jawabanyapun sering kali tidak konsisten.
Sebaliknya, warung kopi adalah ruang netral tanpa hierarki. Di meja warkop, seorang petani bisa dengan jujur mengungkap kendala nyata kelompok taninya, atau pemuda desa bisa membedah alasan sebenarnya mengapa program bantuan sebelumnya gagal tanpa rasa takut. Suasana yang rileks membuat dinding pertahanan diri runtuh, sehingga data yang keluar adalah realitas murni komunitas tersebut, bukan sekadar jawaban yang sudah dipoles.
Menjawab Pertanyaan “Mengapa”
Survei dan metode formal sangat ahli dalam menjawab pertanyaan “apa” dan “berapa”. Survei bisa memberi tahu kita bahwa 70% warga di suatu dusun menolak program pengelolaan sampah. Namun, metode formal sering kali gagal menangkap nyawa dari data tersebut.
Obrolan di warung kopi memberikan konteks. Dari obrolan antarwarga yang mengalir saling menimpali sambil menyeruput kopi, seorang praktisi Comdev bisa menangkap emosi, dinamika konflik antarwarga, dan alasan-alasan di balik penolakan tersebut. Data angka menjadi “hidup” Ketika ketika dipadukan dengan narasi dari akar rumput ini, sehingga program pemberdayaan yang dirancang nantinya tidak salah sasaran.
Seni Observasi Partisipatif
Tentu saja, menggali data assessment di warkop berbeda dengan sekadar nongkrong biasa. Dibutuhkan keahlian khusus yang sering disebut sebagai observasi partisipatif. Seorang fasilitator Comdev harus mampu membaur secara natural, menjadi pendengar yang aktif (active listener), tidak memakai seragam, dan bisa bertanya halus seputar isu desa tanpa terlihat seperti sedang menginterogasi.
Datang dengan pakian bisa dan berperilaku seperti warga lainnya tanpa lembar kuesioner atau mencatat terang-terangan karena justru itu bisa merusak suasana alami tersebut. Oleh karena itu, ketajaman ingatan, kepekaan menangkap persoalan-persoalan yang tersembunyi, dan kemampuan menyaring fakta dari sekadar “gosip burung” menjadi poin utama seorang fasilitor Comdev. .